Kamis, 15 Desember 2011

Semangat Muda di Hari Tua

Melintasi jalan Banda Aceh-Blang Bintang. Area persawahan yang menjadi aset kehidupan penduduk sekitar menghijau bak permadani. Sederetan bukit berbaris mengapit Seulawah Agam. Tampak birunya langit berpadu dengan panas siang itu. Hari menjelang sore, ketika beberapa pasang remaja melintasi jalan tersebut, menuju Bandara Sultan Iskandar Muda. Seperti biasa, mereka akan menghabiskan sore di tempat itu. Sambil bercanda dan menghirup udara bandara yang jauh dari bising kota. Mereka berhenti di tepi jalan, tepat di samping kanan bandara. Salah satu tempat yang ramai dengan pedagang kecil menjajakan santapan-santapan ringan.
Deretan panjang warung kecil berbaris disepanjang jalan. Menyajikan berbagai macam hidangan sederhana untuk pejalan yang singgah di sana. Beberapa meja dan kursi kecil tertata rapi di tepi jalan. Berwarna-warni dengan berbagai macam ukuran. Semua tertata di dalam warung-warung kecil. Ukurannya tidak luas memang, tapi cukup untuk beberapa pengunjung yang singgah disini. Menikmati indahnya langit sore dan hampanya bandara, melintasi aspal kecil dan berdebu.
Memasuki samping bandara, terlihat beberapa warung ramai dengan pengunjung. Kebanyakan adalah muda mudi yang menghabiskan sore sambil bersantai. Sapaan ramah pemilik warung pun terdengar di antara keriuhan kendaraan yang berlalu lalang.
Piyoh…..Piyoh….. (singgah……singgah….)” Sapanya dalam bahasa Aceh Besar yang khas. Tak banyak yang singgah, sebagian hanya lewat saja. Mereka hanya melirik. Kenderaan roda dua yang mereka tumpangi terus melaju melewati warung-warung itu. Tumpukan kelapa berwarna hijau menggunung di sudut-sudut warung. Rak-rak kecil dengan berbagai macam buahpun menggoda lidah untuk sekedar menyicipi.
Kebanyakan warung-warung itu lumayan bagus. Beratapkan terpal biru tebal dan terlihat lebih rapi dan mewah. Tapi, ada yang berbeda di sana. Sebuah warung kecil dan panjang, ukurannya sekitar 3x8 meter. Warung ini beratapkan tenda yang disangga balok-balok tak terpakai. Lantainya dialasi kerikil kecil dari sungai. Di belakang warung terhampar sawah, dan di depannya jalan membentang menuju bandara.
Ada empat buah meja beralas karpet coklat kotak-kotak di bawah atap itu. Di tiap meja ada sebuah kotak tissue berwarna hijau dengan tulisan frestea. Ada sebotol saus, kecap, dan cuka. Semangkuk kecil berwarna kuning berisi uletan cabe rawit mendampingi tiga botol ini. Sebuah stoples agak besar berisi rempeyek bulat. Harganya Rp. 500,-. Setiap meja ada tutup saji plastic warna merah, sekitar enam butir telur ayam rebus tergeletak di sana .
Beberapa rak tersusun sepanjang warung. Ada buah-buahan, mie, bakso dan sayur-mayur. Setandan pisang muda tergantung di langit-langit. Sepertinya ia menjalani keseharian dengan sangat sederhana. Ia tidak banyak memanggil pembeli seperti pedagang-pedagang lainnya. Bahkan ketika dua orang pengunjung masuk ke sana dan duduk, ia baru mulai menyapa ramah.
“Mau makan apa, dek” Tanya seorang Ibu bertubuh agak gemuk, berkulit sawo matang. Sisa-sisa kecantikan masa muda terpancar di wajahnya. “Ada bakso, rujak, mau makan apa?” Tambahnya. Beberapa pengunjung segera berembug dan kebanyakan memilih rujak. Termasuk dua orang pengunjung yang datang belakangan.
Tangan perempuan bernama Nurma ini gesit meracik buah-buahan dalam cobek. Menambahkan beberapa sendok kacang yang telah di giling, cabe rawit hijau, dan menuangkan beberapa sendok air gula. Kemudian tangannya lincah membagi rujak ke dalam beberapa piring kecil.
Setahun berada di bandara, menatap lepas landas dan pendaratan pesawat setiap hari merupakan tontonannya setiap hari. Sejak setahun lalu tentunya. Ketika usaha kecil untuk menghidupi keluarga mulai dijalani. Menjalani hari-hari tua dengan mencari sesuap nasi, itulah yang ia lakoni.
„Cara buat rujaknya beda,ya...“ ujar seorang perempuan muda dengan jilbab krem dan baju coklat garis-garis. Ia mulai mengaduk-aduk rujak di piringnya.
„Sama saja. Namanya saja yang beda. Kamu juga bisa buat sendiri di rumah.“ Ibu itu kembali tersenyum, memamerkan deretan gigi kemerahan tersapu gambir dan sirih.
Beberapa gadis hanya terdiam. Mungkin mereka tidak bisa membuat rujak atau memasak. Berbeda dengan mak Nurma yang sejak kecil memang telah dididik mandiri. Termasuk dalam urusan dapur, meskipun hanya untuk menyajikan sepiring rujak.
Setahun menghabiskan waktu ditepi jalan bukan lagi masalah baginya. Sejak anak-anaknya masih kecil dulu, ia telah biasa mencari nafkah sampingan. Selain untuk menghidupi keluarganya, ia terbiasa mendampingi suaminya mencari nafkah. Saat itu ia belum membuka usaha kecil seperti sekarang, tetapi terjun ke sawah sebagai petani. Dari sanalah mereka mengandalkan kehidupan dengan dua anak yang masih sekolah. Bukan sebagai pencari nafkah utama, tapi ia benar-benar mencoba mendampingi suaminya sebagai kepala rumah tangga.
Mak Nurma merasa berhak turun tangan untuk menghidupkan perekonomian rumah tangga. Ia tidak hanya membantu  memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tapi ia juga menjadi kontribusi pendidikan keluarga. Khususnya bagi kedua sang anak. Selain menyekolahkan anak-anaknya, ia juga membantu pendidikan keponakan meski hanya sampai di tingkat Sekolah Menengah Atas.
Untungnya kedua anaknya telah menikah. Anak perempuannya bernama Nurlaila, telah memberikan enam orang cucu untuknya. Terkadang anak laki-lakinya ikut menemani berjualan di warung. Hasil ia berdagang sehari-hari inilah kemudian dapat membantu pendidikan cucu dari anak laki-laki.
Lama ia hidup berumah tangga, tak sekalipun kekerasan diterima dari suami tercinta. Minimnya perekonomian rumah tangga, bukan satu hal yang membuat hidupnya berantakan. Apalagi sampai mengalami kekerasan. Ia berusaha tetap terus bekerja selama ia masih kuat.
Meskipun memiliki anak yang dapat menanggung biaya hidupnya, ia tak mau menggantungkan usia senjanya di tangan kedua anaknya. Bersama suami ia bekerja untuk mencukupi kehidupan sehari-harinya. Tapi suaminya jarang terlihat di sini, karena suaminya bekerja sebagai supir dan sesekali juga ikut menenemani orang-orang kantor bermain tenis di lapangan.
“Sekarang beliau di Medan. Katanya cuma tiga hari. Tapi sudah satu Minggu belum pulang. Semalam saya telepon, katanya hari ini pulang.” ujarnya sambil menatap keramaian jalan.
Ia bekerja tak hanya memenuhi kebutuhan hidup keluarga, tapi juga untuk mengisi kesenggangan menatap hari tuanya. Meskipun tubuhnya terlihat sudah rapuh, namun sebenarnya terdapat semangat besar pada dirinya. Terlihat ia sanggup berulang kali mengangkat dua ember air dari rumah ke tempat usahanya. Rumahnya memang tak terlalu jauh dari tempat bekerja. Tapi cukup melelelahkan bagi seorang perempuan tua seperti mak Nur. Setiap sore harus mengemas barang dagangannya dan kembali menggelar dagangannya lagi pada esok pagi harinya. Begitu seterusnya.
„Sore saya tutup sebentar waktu azan magrib.  Kadang-kadang malamnya saya berjualan lagi. Tapi lebih sering saya tutup, apalagi kalau dagangan sudah habis.“ Tambahnya sambil menuangkan air putih ke dalam gelas.
Ia juga berharap kedepan ada pihak yang mau membantu mereka. Baik itu dari pihak pemerintah maupun LSM-LSM. Setidaknya ia tetap bisa bekerja tanpa ragu tendanya diterbangkan angin. Baik bantuan berupa sebuah warung kecil atau dana penunjang rekontruksi warung itu.
„Mudah-mudahan pemerintah yang sering lewat di sini mau melirik ke tepi jalan. Mereka kan sering ke luar kota naik pesawat, jangan lihat-lihat saja. Tapi bantulah kami sedikit saja. Tidak dikasih uang, bahan-bahan membangun kios baru juga boleh. Kami sangat bersyukur. Man ken neu eu, keude lon brok, ken hana sama lage keude ureueng laen (lihatlah, warung saya jelek, tidak sama dengan warung-warung  lainnya)“ harapnya dalam bahasa Aceh yang samar terdengar. Saat itu Riau Air sedang lepas landas.
Saat sore mulai meredup, pancaran jingga mulai terlihat di balik bukit, mak Nurma mengemas barang-barang. Ia bersiap pulang ke rumah yang tak jauh dari situ.
Apakah masih ada perempuan-perempuan tangguh seperti ini? Saat zaman semakin kejam dan merenggut hari-hari tua perempuan? Atau, Andakah orangnya?***

Tidak ada komentar: