Kamis, 15 Desember 2011

Di Bawah Balee Ijo

Lagi-lagi aku melihat bang Pon, abang tertuaku, membawa keranjang berisi jerami di pundaknya. Keranjang coklat muda itu warnanyamulai usang di makan usia. Kata Abu umurku seusiaku, keranjang itu juga sangat berjasa. Begitu kata Abu padaku.
Entah apa jas akeranjang sebesar cincin sumur itu. Isinya selalu jerami yang tak ada gunanya. Jarang sekali berisi rumput untuk sapi kami. Sapi-sapi biasanya lebih sering dilepaskan di kebun kosong belakang ramah. Rumputnya juga tak henti-hentinya panjang. Jerami? Paling-paling hanya untuk menutup tanah di bawah rangkang hijau itu.
 Rangkang hijau tempat jerami bersemayam.letaknya tak jauh dari rumah. Sekitar 10 meter dari dapur dan lima meter dari pagar kekebun, tempat sapi-sapi kami digembalakan. Aku dan teman-teman sering duduk di sana untuk melepas lelah atausekedar membuat PR dari sekolah. Kalau sore, Ayahlah penguasa rangkang hijau  itu. Dengan segelas kopi dan sebungkus rokok, beliau siap membangun impian. Impian itu juga tertanam dalam lubuk hatiku. Membangun sebuah negara.
Terbuat dari bambu, hijau alami karena polesan cat minyak, luasnya sekitar lima meter. Itulah rangkang yang kusebut balee ijo (rangkang hijau). Selain tempat aku beristirahat, bang Pon dan teman-temannya sering musyawarah di sana. Di bawah rangkang tersusun kayu bakar. Selain menyelamatkan dari hujan juga untuk mendekor halaman rumah agar tampak lebih rapi.
Siang yang aneh.
Begitu menurutku. Orang-orang berlarian kesana kemari. Ada kontak senjata kata bang Pon.
“intan, cepat masuk. Tiarap!” perintah bang Pon diantara sengal napasnya yang memburu. Aku menurut saja, anak 6 tahun, tau apa?
Tiba-tiba saja sekitar rumah ramai. Mereka teman-teman bang Pon yang sering kulihat dirangkang hijau. Aku mengambil posisi dibawah tempat tidur, sengaja kugeser tubuh kecilku menuju dinding yang sedikit berlubang dimakan rawon. Dari sini semua terlihat jelas.
Dentuman senjata terdengar seperti batu dilempar keatas seng. Bertubi-tubi dan keras sekali. Aku sudah sering mendengar suara-suara ini. Tapi sekarang maslahnya dirumahku.
Aku juga tidak menyangka, teman-teman bang Pon semua bersenjata. Mereka menembak. Aku semakin takut, apalagi Ayah dan Ummi sekarang sedang menghadiri kenduri saudara, di blah deh krueng (seberang sungai).
Saat aku sedang panik, berpikir bagaiman keluar membantu bang Pon. Kulihat jelas bang Pon berlari ke bawah rangkang, salah seorang temannya ikut merangkak menuju tempat yang sama.
Tangan keduanya sibuk mengais-ngais, sementara pertempuran masih berlanjt terus. Sempat kulihat, kurekam dikepalaku, teman bang Pon yang berada dekat persembunyianku tergelatak bersimbah darah. Dadanya tertembus peluru, namun senyuman penuh arti terukir di biirnya.
Apa yang kulihat selanjutnya mengejutkanku. Apa yang kulihat sempat membuat persendianku lemas. Lemas sekali. Tulang-tulangku terasa runtuh satu persatu. Kepalaku serasa berputar, bang Pon dan temannya mengambil beberapa pucuk senjata dan melempar keteman-temannya.
Mereka terus baku tembak selama beberapa belas menit. Sampai satu persatu tumbang. Aku masih melihat bang Pon melepaskan beberapa peluru sebelum tubuhnya ikut tumbang berlumuran darah seperti teman-temannya.
“Allahu Akbar.....!!!” Pekikan itu menyadarkan aku dari tontonan.
“Bang Pon......!!!!!!!” setengah terkejut aku bangkit, berlari keluar rumah.
Sepi. Tak ada suara. Apapun tak kudengar. Senyap. Air mataku terus mengalir, aku sesenggukan. Menangis. Sambil menyusuri tiap-tiap jenazah yang bergelimpangan, aku terus mencari celah tanpa darah tiap jengkal langkahku. Mungkin masih ada jejak untuk kusinggahi.
“Woi.....ada anak kecil. Perempauan.”seorang tentara menunjukku. Di sisi jenazah bang Pon, aku berdiri tegap. Dendamku tersulut. Lihat! Kalau aku besar nanti, kamu juga akan kutembak seperti kamu menembak abangku.
“Dik......!! ayo kemari sma om.....” salah satu dari mereka menatapku lembut. Tubuhnya membungkuk, kedua tangannya terulur mencoba mendekapku. “ Ayo, sama om.... jangan takut...” Katanya. Saat perlahan tangan kekarnya merangkul dan menggendongku, aku baru tau kalau ia telah membawaku.
Aku di bawa kesebuah tempat denagn pesawat. Bertemu dengan seorang perempuan canti yang di panggil Mama. Aku dirawat dan dimasukkan ke sebuah sekolah khusus anak-anak tentara. Sampai aku besar, aku punya satu mimpi. Kembali kekampung, melihat tanah kelahiran dan rangkang hijau. Mungkin masih banyak senjata di bawah sana.

Laki-laki yang memungutku dan memisahu dari otrang tuaku, serta menembak abangku bernama Suprayetno. Ia kupanggil Papa selama 15 tahun. Tanpa kutahu dimana Ayahku. Sekarang beliau memeperbolehkan aku kembali menjenguk kampung halamanku, berharap dendamku terhapuskan.
Sasaranku adalah ruma. Rangkang hijaumasih ada. Tapi dibawahnya tak ada lagi tumpukan kayu, jerami dan keranjang coklat. Suasana rumah benar-benar berubah.
Tiba-tiba saja kejadian itu terulang lagi. Saat Ayah  dan Ummi  tak ada di rumah, saat bang Pon mengais di bawah rangkang dan mengeluarkan senjata. Aku tahu. Dia Ayahku, .... Ayah......
Aku berjalan perlahan mendekati rangkang. Pertahananku bobol menatap orang paling kucinta ada di hadapku. Saat tanganku terulur hendak menyentuh lelaki itu. Sebait senandung terdengar.
“si oen bendera dalam  nanggroeji ek di uroe angen peudodabintang  bueleun pusaka naggroeguesah keu bumoe aceh mulia”
tubuhku lemas, aku tersungkurjatuh. Hilang semuanya. Tapi bahagia..... Ayah  masih menyimpan mimpi yang dulu, mimpiku....***
Banda Aceh, 21 Februari 2007

Tidak ada komentar: