Senin, 18 Juni 2012

Trend Online, Belanja Modern


Dimuat di Majalah Potret

Haiii
cantiikk...mau jadi perempuan paling keren se kantor..?? se kampus...??
yukkk, pakai aja gamis model lady emperor ini...warnanya bisa bikin
kamu kelihatan putih lohh....^^
haii cantikkk.....yukk di borong koleksi terbaru Butik Aishi..gamis
model starry polka bikin penampilan kamyu manisss banget
dehhh...matchingin dengan all stuffmu warna maroon dehhh, pastiii bikin
ngiri semua yang ngeliat..^^


Kalimat di atas dapat kita temukan pada butik-butik online yang menawarkan pakaian-pakaian model terbaru. Kalimat sejenisnya ini mampu mempengaruhi dan mangajak para wanita untuk merogoh kocek terdalam dan menarikan jemari di tuts keyboard komputer. Transasksi jual beli secara online pun terjadi.

Tidak hanya di kota-kota besar atau di negara maju. Berbelanja online mulai di kenal sejak beberapa tahun lalu. Tepatnya sejak situs jejeing sosial mulai dikenal di kalangan masyarakat. Kemudahan yang ditawarkan menggoda setiap wanita untuk mulai mencoba dan melakukannya.

Berbelanja secara online mulai marak akhir-akhir ini. Aktivitas ini seperti trend yang terjadi akhir-akhir secara berkala. Khususnya setelah situs jejaring sosial mulai dikenal hingga ke pinggiran. Situs jejeraing sosial seperti Facebook dan twitter merupakan lahan utama untuk berbisnis. Selain tidak sulit mencari pelanggan, kedua situs ini merupakan situs yang paling banyak dikunjungi oleh masyarakat saat ini. Barang yang ditawarkan pun beragam, mulai dari buku, pakaian, sepatu, sandal, tas sampai aksesoris. Harga yang ditawarkan beragam, relatif murah dan tak jarang mahal sekali.

Harga tentunya di luar ongkos pengiriman yang di luar daerah. pengiriman barang dilakukan dengan menggunakan jasa angkutan udara yang harganya relatif mahal. Ukuran barang tidak mempengaruhi harga menjadi lebih murah. Tetap trend ini tetap diminati oleh masyarakat.

Jejaring sosial seperti Facebook membuka lahan baru untuk butik, gallery dan maupun rumah makan. Mereka akan lebih menawarkan barang-barang baru maupun lama dengan cara menandai foto yang ada ke profil pertemanan di Fb tanpa pandang bulu.

Sistem pembeliannya dilakukan dengan cara sederhana dan mudah. Cukup memberi komentar, mengirim pesan ke inbox atau mengirim sms ke si penjual. Transaksi akan berlangsung. Dalam jangka waktu hitungan hari saja, barang pesananan akan sampai ke rumah.

Para Ibu rumah tangga lebih menyukai berbelanja online dengan alasan lebih bagus dan pilihanya bagus. Mereka tak perlu meninggalkan rumah untuk berbelanja sebuah tas atau sepatu. Kebanyakan para wanita aktif atau memiliki kesibukan di luar rumah, malas meninggalkan pekerjaannya untuk waktu sesaat dengan membeli pakaian.

Wanita lajang berkarir memilih ini sebagai ternd. Sebelumnya trend belanja menggunakan kurir dan katalog juga trend di kalangan wanita.

Huriyah, seorang Ibu dengan satu putra. Ia bekerja di salah satu instansi pemerintahan. Sebagai perempuan yang sibuk, ia lebih menyukai berbelanja secara online daripada memilih dan mencari waktu luang untuk ke toko. Menurutnya, waktu yang dihabiskan di pasar jauh lebih banyak daripada mengantri di bank. Kondisi keuangan juga memaksa untuk terus menguras lebih banyak tabungan daripada berbelanja secara online.

“Kalau online kita cuma lihat satu atau dua barang saja. Kalau ke pasar, kita jadi melihat banyak barang dan semuanya ingin dibelanjakan. Berbeda dengan belanja online, apa yang kita butuhkan saja. Belanja secara online jauh lebih hemat daripada belanja secara langsung. Selain hemat uang juga menghemat waktu”, ujar Huriyah.

Sementara mahasiswi yang semester akhir dan pertengahan di sebuah perguruan tinggi di Banda Aceh, menganggap belanja online bukanlah sebuah trend. Tetapi kepuasan sebagai konsumen dengan harga yang murah. Hal ini karena banyaknya barang di online shop banyak beredar dengan harga murah dan model yang terbaru serta bagus-bagus.

Ida Safitri lebih suka berbelanja tas secara online daripada belanja secara langsung di toko tas. Menurutnya berbelanja secara langsung itu harga terlalu mahal dan capek ketika terjadi tawar menawar. Barang yang dijual juga bukan model terbaru, banyak dipakai oleh konsumen lain. Sementara berbelanja online barang yang ditawarkan kebanyakan memang stok terbatas dan diedarkan ke seluruh nusantara. Bisa dijamin hanya beberapa orang saja yang memiliki barang yang sama. Untuk sistem pemesanan, Ida tidak takut akan mendapatkan harga mahal. Ia akan mengajak teman-teman dekat untuk berbenja barang di toko yang sama. Sehingga ongkos kirim yang mereka kirimkan bisa patungan dan tidak memberatkan.

“Kalau pesanannya barengan malah tidak terasa kita sudah mengeluarkan uang untuk ongkos kirim juga. Murah sekali dibandingkan dengan berbelanja  di pasar atau di toko.” Ungkap Ida.

Selain Ida, masih banyak para wanita yang memilih berbelanja secara online dengan berbagai macam alasan. Tetapi alasan yang dikemukakan tetap saja karena berbelanja secara online lebih mudah dan menyenangkan.

Namun di samping kemuddahan berbelanja secara online ini mudah dan murah. Para wanita aktif yang tergila oleh fashion haruslah khawatir. Dampak negatif tentu ikut hadir seiring dengan dampak positif. Kekhawatiran inilah yang harus di antisipasi oleh pelanggan dan para wanita khususnya.

Beberapa masalah yang sering terjadi yaitu penipuan. Pengiriman barang pesanan baru akan di terima setelah pengiriman sejumlah uang melalui rekening. Sementara pemesan tidak tahu pasti dimana lokasi atau toko si penjual online tersebut. Jika pada transaksi ini terjadi penipuan, seperti barang tidak dikirim, maka pemesan tidak bisa menuntut.

Keluhan lainnya adalah ketika barang yang di pesan datang dengan kualitas tidak diharapkan. Seperti bahan yang tipis, warna tidak seperti yang ditampilkan. Hal ini menjadi masalah dan timbul penyesalan bagi pembeli. Sementara produk yang telah dibeli tidak boleh ditukar atau dikembalikan.

Pembelian secara online umumnya tidak malayani komplain pelanggan. Berbeda dengan pembelian secara langsung, pelanggan boleh mengkomplaim bila ditemui cacat produk bila ada perjanjian dengan penjual.

Jadi, pembelian secara online atau langsung merupakan pilihan. Pilihan tersebut ada di tangan konsumen.

Jumat, 27 Januari 2012

Cerpen: "Canang"


Baru kali ini aku menginjak kaki di tanah gayo. Panorama yang indah seindah gadis para titisan Putri Bensu. Dingin... tak sedingin penyambutan sebuah keluarga tempatku menumpang. Mereka malah menerimaku dengan ramah dan suka cita. Padahal mereka mempunyai seorang anak gadis cantik. Kalau di perkampungan seperti ini, mana bisa seorang pemuda tinggal di rumah seperti ini. Bisa disidang warga.
Dia memang kembang desa. Namanya Lia. Nama modern untuk gadis semi modern. Rajin, itu kesan pertamaku saat melihatnya. Sebelum matahari menebar sinar, ia telah bangun dan mengerjakan tugas rumah tangga. Saat aku masih betah berselimut atau berdaring[1] di tepi tungku, ia sudah mencium tangan ine ama[2]. Lalu berangkat ke sekolah.
“Tahun depan Lia sudah tamat sekolah. Tapi kami tidak tahu Lia mau melanjutkan kemana,” suatu pagi ama pernah berkata kepadaku. Ine mengiyakan, memperkuat ucapan ama.
Sempat aku mengobrol dengan Lia di sela-sela kesibukannya menyiapkan makan malam. Kesempatan ini juga aku paksa. Lia tak pernah memberi kesempatan aku untuk mengenalnya. Ia terus menghindar, membuat aku tak enak hati. Kalau bukan karena tugas, aku sudah lama angkat kaki dari sini.
“Menunggu canang” Kata Lia. Benda itu apa aku tak tau. Sebelum aku bertanyalebih jauh padanya, ia sudah mengusirku.
“Ine ama sudah ke kebun. Di rumah hanya tinggal kita berdua. Tidak enak dilihat orang. Sumang[3]. Ucapnya. Apalagi itu?
Seminggu, sebulan, enam bulan. Aku sudah hampir selesai kontrak dengan lembaga asing yang memberi donor untuk desa ini. Aku harus pergi meninggalkan kampung ini. Kembali ke Jakarta untuk menandatangani kontrak selanjutnya. Ke daerah berbeda tentunya.
Data akurat tentang kampung ini sudah kudapat. Sebuah desa di pelosok Aceh berdataran tinggi. Keberadaam masyarakat  rukun, kebutuhan serba minim dan semua hal-hal penting lainnya nyaris tak ada.
Ine dan ama juga memberi sebuah kenangan untukku sebelum pulang. Peci kerawang gayo[4]. Katanya agar aku rajin sholat dan selalu merindukan tanoh gayo[5] tentunya.
Di tempat ini aku pernah menumpang, menjadi masyarakat pedalaman. Ikut menjalani adat yang tak pernah kumengerti. Aku juga sempat menjadi buah bibir akan dicalonkan dengan anak ama ine yang cantiknya di akui hingga desa seberang.
Tapi bagaimana aku bisa senang jika Lia tak pernah membuka hatti untukku. Enam bulan bersama hanya beberapa kalimat yang tertuju untukku. Selebihnya kami larut dalam diam.
Itulah yang kusukai darinya. Pemalu dan menjunjung tinggi adat. Itu pula yang mengundang rasa rinduku untuk kembali ke tempt itu. Menjenguk Lia dan ama ine. Tentu  gadis rajin itu telah tamat sekolah setelah  dua tahun kutinggalkan.
Kesempatan emas datang, saat bosku memberi tahu ada undangan untukku. Masayarakat kampung tersebut mengundang akuu kembali kesana. Sebagai pencetus dan peneliti di desa itu, aku berhak melihat kemajuan itu kembali.
Kebetulan atasanku juga beretnis gayo. Pertanyaan terbesarku segera kuajukan untuk modal mendekati Lia. Canang.
Ah... Rasanya tak sabar untuk melihat gadis itu tersenyum seperti awal kedatanganku. Kali ini dia pasti mau terbuka. Aku telah banyak membaca buku-buku tentang budaya tanah kelahirannya. Meski aku tak mengerti sama sekali. Ini akan kudiskusikan dengan Lia.
Seminggu perjalanan, aku tiba juga dikampung itu. Kini tak lagi sekuno dulu. Sudah ada aspal kasar untuk menuju kampung dingin itu. Angkutan umum pun sudah beroperasi. Ternyata benar kata geuchik[6]. Banyak kemajuan di sini.
“Ada mahasiswa KKN yang mempermudah hubungan orang-orang di sini. Rumah-rumah jugasudah diberi nomor” tutur geuchik bangga. Usaku ternyata tak sia-sia.
“Apa kabar ine ama, pak?! Tentu sekarang mereka juga sudah sangat bahagia karena Lia sudah mahasiswa juga” Kataku memancing pembicaraan lebih menjurus. Sekalian mencari tau status Lia sekarang.
“Ah, tidak. Lia satu-satunya yang kami harap bisa ke kota untuk kuliah ternyata gagal. Setelah tiba ke kota ia lupa tujuan” Ujar pak geuchik kecewa.
“Maksud bapak?”
“Canang terlalu cepat dipukul di rumahnya. Walaupun orang tua kecewa, tapi ini menyangkut aib keluargnya. Makanya... Canang pu berbunyi.”
Aku masih tak mengerti ucapan pak ­geuchik. Canang terlalu cepat berbunyi di rumahnya...
Terdorong rasa ridu, aku melangkah ke rumah ine ama. Tak banyak perubahan dari sebelumnya. Hanya saja, tak ada lagi jemuran tempat Lia menjemur jemuran sebelum mantahari terbit.
Peluk cium haru terjadi di rumah papan itu. Ama dan ine seakan tidak mau melepas pelukannya. Bahasa yang tak kumengerti mengiringi isak tangis mereka. Aku hanya bisa pasrah, meskipun aku tak suka.
Aku tak berani menanyakan Lia meski ia tak tampak di rumah. Entah kemana gadis itu. Rambut hitam lurusnya pasti sudah sangat panjang, tubuhnya lebih montok. Lia sekarang, pastilah gadis yang menarik.
Hingga malam tiba, saat makan malam. Aku memberanikan diri untuk menanyakan Lia. Siapa tahu aku dapat kesempatan memperistrikannya.
“Lia sudah dipetik orang, anakku. Ine mau anaklah yang akan menjadi menantu. Amamu sampai menyekolahkannya ke kota. Biar dia pantas mendampingimu. Tapi ia lebih memilih mencoreng muka kami, nak.” Ine kembali menitikkan air mata. Ah, aku jadi merasa bersalah. Meski penasaran, tak kutanyakan apapun lagi pada ine ama.
Seperti dugaanku. Orang kampung akan menceritakan kepadaku. Ternyata perubahan itu sudah lama terjadi. Lia yang polos tidak lagi polos. Ia mengenal hal-hal yang tak sepantasnya ia ketahui.
Dua bulan di kota, Lia hamil dan terpaksa dinikahkan. Sekarang ia berada di rumah suaminya.
Aku baru sadar, ternyata perubahan Lia sejak keberadaanku. Gadis itu mengetahui hasrat orang tuanya untuk mendekatkan kami. Tujuan orang tuanya menyekolahkan Lia ke kota juga agar kelak bisa mendampingiku. Namun Lia tak bisa terima karena ia telah memiliki pilihan sendiri. Itu juga bentuk protesnya.
Itukah menunggu canang yang dimaksud Lia dulu? Pesta pernikahan. Oh... Aku tak pernah mengerti. Jika aku tahu keberadaanku telah merusak pemikiran gadis itu, aku memilih tak hadir di situ. Namun semua telah berlalu...

Darussalam, 24 September 2008


[1]Api-apian di tepi tungku kayu
[2] Ibu Bapak
[3] Adat gayo yang melarang seseorang melakukan tindakan asusila.
[4] Kerajinan tangan khas gayo
[5] Tanah gayo
[6] Kepala desa

Rabu, 21 Desember 2011

Feature: "Merdeka Hanya Kata"


Aceh Feature/ Sosial - 2010-02-14 | 963 Kata
LAPANGAN Merdeka Kota Langsa ramai. Peringatan hari kemerdekaan Indonesia akan berlangsung besok. Malam itu beberapa gerobak mulai mengisi trotoar di sepanjang halaman. Kursi-kursi plastik warna-warni mulai disusun hingga ke tengah lapangan. Satu per satu pengunjung pun  mulai datang, mencari tempat yang nyaman. Tempat makan terbuka ini disebut “Rex”, sama seperti nama tempat makan terbuka yang terkenal di Banda Aceh. Padahal nama Rex berasal dari nama bioskop yang dulu sempat berdiri di situ.

Di beberapa sudut lapangan yang agak remang-remang, beberapa muda-mudi mempunyai tempat sendiri. Namun malam itu para lelaki dewasa lebih banyak terlihat di sini.

Saya bersama tiga teman sedang menunggu seseorang. Nazar, salah seorang dari kami, akan mengenalkan kami pada seseorang itu. Ia menyebut orang tersebut: teman lama. Tiba-tiba telepon seluler Nazar berdering, memperdengarkan lagu Toxic Britney Spears, penyanyi pop asal Amerika.

Nazar menjelaskan posisi kami pada si penelepon. Tak berapa lama, sebuah Kijang Avanza hitam memasuki tempat parkir, tak jauh dari kursi kami. Seorang lelaki paruh baya keluar dari mobil itu.

Perawakannya tinggi, tambun, rambutnya lurus belah tengah, tak ada senyum. Ia memakai jins dan kaos oblong.

“Assalamualaikum....” Ia mengucap salam, seraya mengangkat tangan setinggi kepala. Kami menjawab salamnya serempak dan menyalaminya bergantian.

Nazar memperkenalkan kami pada lelaki itu. Ternyata ia seorang pengusaha perlengkapan rumah tangga. Dulu ia pernah jadi pegawai pemerintah kabupaten. Hamzah, namanya.

Seorang pelayan menghampiri kami, membawa catatan dan pulpen, menanyakan menu yang akan dipesan.

“Jus terong Belanda,” jawab saya.

“Pokat.” Nazar bermaksud menyebut “alpokat”.

"Mangga,” Nurul menyebut pesanannya. Kening pelayan itu berkerut. Sepertinya ia akan mengatakan sesuatu, tapi diurungkannya.

“Bapak seperti biasa?” tanya si pelayan itu akhirnya pada Hamzah.

Ia mengangguk.

“Gulanya dikurangi ya,” ujar Hamzah. Si pelayan mengangguk dan bergegas menyiapkan pesanan kami. Hamzah memang bukan orang baru bagi pelayan tadi.

“Saya sudah sering nongkrong di sini. Hampir tiap malam. Kadang-kadang bertemu rekan bisnis, kadang teman-teman dari kantor dulu,” kisahnya. “Mereka juga bingung mau mengikuti jejak saya atau tetap bertahan sebagai pegawai biasa dengan gaji pas-pasan.”

Hamzah lalu bercerita tentang pekerjaannya dulu: pegawai negeri sipil. Para pegawai di kantornya datang hanya untuk menandatangani absen saja. Lalu duduk dan mondar-mandir saja di kantor. Tak jarang mereka hanya nongkrong di warung kopi dan duduk-duduk saja, lalu tiap bulan menerima gaji. Tak hanya di satu kota saja perilaku pegawai pemerintah seperti ini, tapi hampir di semua kota di provinsi Aceh.

Menurut Hamzah, merdeka dari pekerjaan itu bukan sekedar bebas dari kerja yang tidak kita sukai. Tapi dapat mencari pekerjaan yang lain dan kita senangi.

Lapangan Merdeka Langsa setiap tahun menjadi lapangan upacara untuk memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia, tapi ia juga saksi bahwa sekian banyak orang masih belum lepas dari penjajahan. Begitulah kata Hamzah.

“Kalau saja pemerintah kita bijak dalam mengatasi perekonomian masyarakat, pastinya kita sudah seperti negara-negara maju. Buah-buahan seperti ini tak ada yang busuk. Kita bisa mempunyai perusahaan pengolahan buah sendiri. Misalnya di Takengon. Jadi semua masayarakat di sana merdeka dari kesulitan ekonomi. Benar tidak?” Hamzah bertanya pada saya.

Rupanya itu definisi “kemerdekaan” yang dimaksud Hamzah.

Para rakyat kecil yang berdagang di jalan-jalan pun masih dikejar-kejar satuan polisi pamong praja, belum merdeka secara penghidupan.

“Padahal mereka bekerja di kaki lima bukan dengan niat mengganggu ketertiban umum, tapi karena tak sanggup menyewa lapak yang harganya mahal. Penghasilan mereka saja tak seberapa,” Nazar ikut berkomentar.

Para pedagang di Rex dengan izin pun masih harus membayar uang restribusi pada pemerintah.

Malam semakin larut ketika kami meninggalkan Rex untuk kembali ke penginapan.

Seorang perempuan dengan rompi oranye memandu mobil keluar dari tempat parkir. Di Banda Aceh saya tidak pernah melihat perempuan menjadi penjaga parkir, tapi di Langsa sebaliknya. Saya malah tidak melihat lelaki menjadi tukang parkir di sini.

Perempuan paruh baya itu mengutip Rp 5 ribu per mobil. Namun ia masih harus member setoran pada pemerintahan setempat.

Saya ingat hari itu, 17 Agustus 2009 , peringatan ulang tahun Republik Indonesia ke-64 terjadi juga. Beberapa kelompok berbondong-bondong menuju Lapangan Merdeka. Ada rombongan anak sekolah, pegawai, tentara, polisi dan beberapa instansi pemerintahan lainnya. Mereka berbaris dengan  seragam masing-masing, menunggu saat-saat bendera merah putih dikibarkan.

Pagi itu saya dan Asna Wati, seorang teman, masih mencari sarapan. Jalanan macet, tak bisa lewat di sekitar lapangan itu. Namun tak jauh dari sana, ada sebuah warung kopi yang pintunya setengah terbuka.

Beberapa orang duduk minum kopi dan berbincang-bincang. Setelah memesan dua piring lontong dan minuman kami pun ikut duduk bersama mereka.

Seorang polisi dengan seragam lengkap menghampiri kami. Ia duduk di antara saya dan Asna.

“Tidak ikut upacara bendera?” tanya polisi itu, dengan garang. Kami terkejut, beberapa orang lain di dalam warung juga terkejut.

“Kami sarapan dulu, nanti baru ikut. Tapi kami sudah mengirim perwakilan untuk upacara,” jawab Asna, agak gentar.

“Dari mana Anda ini? Siapa?” tanya polisi bernama Zulkifli itu. Rambutnya mulai memutih di sana-sini.

Asna menjelaskan bahwa kami berasal dari Banda Aceh. Setelah itu nada bicara Zulkifli mulai melembut.

“Dulu pahlawan kita sangat sulit memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Tapi orang-orang zaman sekarang malah seenaknya saja memperlakukan hari kemerdekaan. Hanya datang berbaris beberapa jam tidak mau. Bangsa kita 350 tahun berjuang melawan bangsa asing.” Suaranya kembali meninggi.

Kami hanya mengiyakan saja. Sepertinya, kami salah memilih tempat makan.

Zulkifli juga bercerita tentang keluarganya. Walaupun hanya seorang polisi, ia bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai program doktoral di Jerman.

“Bangga saya sebagai seorang polisi. Berapalah gaji saya, tapi saya bisa sekolahkan anak-anak saya sampai ke Jerman. Beasiswa yang diterima itu tidak cukup, lho. Malah saya banyak harus menutupi dengan uang saya sendiri,” tuturnya, sambil tertawa.

Berapa gajinya tiap bulan? Setahu saya, hanya para pengusaha yang bisa menyekolahkan anak-anak mereka ke luar negeri dengan uang pribadi. Tapi saya agak segan menanyakan sumber lain pendapatan Zulkifli selain gaji.

Jam mulai menunjukkan pukul sepuluh. Upacara akan dimulai, namun polisi itu masih duduk di warung kopi. Sampai saya dan Asna meninggalkan warung itu, ia masih duduk di sana. Padahal ia tadi memperingatkan kami untuk upacara.***

Fiksi: "Mas Salah"

Majalah POTRET/ Edisi No. 51-2011


Miss Salah.
Aku tak suka julukan itu. Toh selama ini aku bisa memanajemen setiap permasalahan  dengan menulisnya sebagai cerita pendekku dan terangkum dalam folder reportase hati. Walaupun tak sepenuhnya apa yang kutulis benar, tapi aku cukup merasa lega karenanya. Itu manajemenku dalam memecahkan tiap permasalahan. Endingnya sengaja aku buat indah, aku berharap akan ada masukan atau masalahku akan berakhir dengan happy ending.
Hal lain yang terbesar dalam hidupku adalah mengeluh. Ini pula yang membuat orang menilaiku dengan berbagai sebutan. Termasuk julukan perempuan bermasalah.
Sampai ketika aku berumah tangga dengan Mas Shalahan, kebiasaan mengeluh untuk diri sendiri masih saja terulang. Mas Salah juga selalu menyalahkan aku terlalu sensitif. Aku suka membesar-besarkan hal kecil, katanya. Menururku itu tak benar.
“Mestinya kamu menghilangkan masalah kecil dan mengecilkan masalah besar, dek..” Nasehat Mas Salah ketika kuceritakan keributanku dengan Rosa di kantor.
Mas Salah ini. Bukannya membelaku, ia malah membuat amarahku di ambang pintu.
“Mas, kapan sih mas berhenti menyalahkan aku. Di mata mas memang selalu salah.” Protesku, setengah menangis.
“Ya... Namanya saja Mas Salah. Sangat cocok dengan Miss Salah. Iya, kan?!” Ia merangkulku. Aku tersenyum.... Amarahku meredam.

AKU menimang-nimang buku Khaleed Moestafa. Rasanya aku harus memilikinya. Hanya satu lagi. Kalaupun ada di toko buku lain, sepertinya harganya tak seringan ini. Aku member di toko buku ini, kalau di toko lain kan tidak. Bagaimana ya....?
Ini masih pertengahan bulan. Tapi pengeluaranku sudah banyak sekali. Aku harus memebli ini dan itu. Kemarin aku kepincut pada baju warna krem di butik. Keren sekali baju itu. Aku yakin sekali ini sangat manis bila aku yang memakainya. Apalagi pemilik butiknya bilang begitu padaku, dia tak bohong. Karena aku sudah cukup mengenalnya. Ketika aku coba di kamar pas, benar saja, memang sangat anggun. Akhirnya aku keluarkan setengah gajiku untuk membayar harga baju itu.
Aku berharap Mas Salah juga sangat senang dengan pilihanku. Terang saja aku memamerkan pilihanku pada Mas Salah. Bukan pujian yang kudapat darinya. Tapi komentar yang tak kuharap sama sekali. Emm, tidak bisa di sebut komentar kalau itu, tepatnya cercaan.
“Dek, dek... Mau pakai ke mana pakaian itu. Kerjaanmu kan sudah sangat teratur. Busana disediakan studio, di luar itu kamu pakai seragam, kan?! Kalau untuk pesta atau apa.... baju yang Mas belikan belum habis kamu pakai. Dek, hemat sedikitlah.... walaupun gajimu sendiri, coba ditabung untuk masa depan. Ingat, kamu masih punya cita-cita mengambil master di Jepang, kan?”
Memang iya. Tapi aku juga ingin memanjakan diriku sendiri seperti teman-temanku yang lain. Mereka bisa bersenang-senang. Toh suami mereka tak keberatan. Kenapa Mas Salah selalu mempermasalahkan hal kecil seperti ini sih....
Ugh, pusing.
Kali ini aku yakin sekali tak menjadi soal apapun yang akan kubeli. Mungkin soal baju itu Mas Salah benar. Terlalu mahal. Tapi ini bukan masalah kok. Hanya sebuah buku saja. Aku harus membelinya. Mumpung ada diskon dari penerbit, ditambah dengan diskon member kan jadi untung banget diriku.
Tiba di rumah, Mas Salah sudah duluan tiba. Tak biasanya. Ia juga sudah membersihkan diri, dan sudah makan siang. Ini yang menyenangkan dari Mas Salah. Tidak terlalu banyak menuntut dari aku. Ia membebaskan aku berkarya. Mas Salah memang luar biasa.
“Dek, mas belikan kamu buku. Mas lihat kamu punya koleksi banyak. Tapi ini kok belum punya ya...” Mas Salah mengeluarkan bungkusan berbentuk persegi empat dari tas kerjanya.
Aku menerimanya senang dan penasaran. Buku apa yang dimaksud Mas Salah? Kubuka pelan-pelan bungkusan itu. Hmm... Tumben Masku baik banget. Ia biasanya akan mengomrl kalau aku terus belanja buku. Katanya aku terlalu boros dan ini itu.
“Lho, Mas...” Aku terkejut.
“Kenapa, dek. Kamu nggak suka ya bukunya?” Wajah Mas Salah tampak kecewa. Aku tertawa, mengeluarkan buku yang sama dari tasku. Lalu mengacungkan ke hadapan Mas Salah.
“Aku juga beli mas. Di toko yang sama pula. Satu lagi mau dikemanain, Mas?” Tanyaku sambil ketawa. Mas Salah tak tersenyum sedikitpun, apalagi tertawa. Aku juga merasa ttak enak karena Mas Salah tak tertawa.
“Dek, hematlah.... Kan mas sudah belikan kamu buku ini. Kenapa beli lagi?” Tanyanya. Aku bengong, Mas Salah tidak bilang atau tanya dulu padaku. Kok aku lagi yang disalahkan.
“Mas nggak bilang.” Jawabku kesal. Aku tak suka jadi objek kesalahan terus.
“Dek, dek....” Dia mengacak-acak rambutku dan beranjak dari sisiku menuju ke kamar kerja. Yakinlah, ia tak akan keluar sampai malam. Ia akan di sana sampai ia bosan.
Aku menghembuskan nafas berat. Kenapa aku lagi yang salah... Mas Salah tak bilang mau buat kejutan untukku.

BUKU yang sama itu akhirnya kami bawa sebagai kado ulang tahun adikku. Sesuai kesepakatan saat kami mulai romantis. Tapi buku yang aku beli. Buku yang dibeli Mas Salah tetap masuk ke rak koleksi. Ini solusi agar Mas Salah tidak ngambeg lagi dan agar dia juga tahu, bahwa aku sangat menghargai pemberiannya.
“Kayaknya kita perlu rak buku baru ya, mas...” Ujarku di sela-sela waktu santai. Mas Salah hanya melirik sejenak. Lalu kembali lagi ke majalah seni yang dibacanya. Cuek.
Akupun ikutan mengalihkan perhatian ke majalah wanita yang aku baca. Menelusuri tiap rubrik dengan teliti. Mungkin belum saatnya berbicara masalah pengeluaran di akhir bulan. Petaka buat Mas Salah.
Rubrik interior kali ini cukup menarik. Sesuai dengan keinginanku. Sebuah lemari yang cocok untuk rumah tipe 81. Bentuknya tinggi hingga ke langit-langit, lebarnya panjangnya sepanjang dinding. Tipis. Cocok sebagai pengganti lemari hias. Aku suka sekali. Awal bulan aku akan beli, Mas Salah pasti setuju.
Kebetulan dua hari kemudian aku gajian. Kali ini bonus setengah dari gajiku. Keberuntunganku tak hanya di situ, masih ada sejumlah uang dari honor pemuatan cerpenku. Lengkap sudah keberuntunganku.
Tak perlu mengambil gaji. Cukup menghabiskan bonus dan honor cerpen saja bulan ini.
Tanpa mengajak Mas Salah, aku pergi ke toko furniture yang diinformasikan majalah. Aku memesan lemari tersebut dengan semangat. Hanya tiga perempat dari anggaran yang kurencanakan.
Klop!!
 Akan kutempatkan di ruang keluarga. Dengan senang hati aku mempersilahkan pegawai furniture itu masuk ke rumah dan menempatkan lemari buku di tempat yang aku inginkan. Bagus sekali. Tinggal memindahkan semua buku dari kardus ke lemari dan tinggal mengisi kekosongan saja.
Sorenya, aku ingin membuat kejutan pada Mas Salah. Menunjukkan padanya, dari bonus dan honor sebulan saja, aku sudah membeli rak lemari buku yang aku impikan.
“Masuk sini, mas... Sini...!! Ya, taroh di......” Mas Salah tercengang. Tidak melanjutkan instruksi pada beberapa orang yang tengah menggotong lemari yang sama. Tetapi ukurannya sedikit lebih kecil.
“Dek, maksudnya apa?” Tanyanya heran.
“Lho, Mas...?! Ini buat siapa? Kita?” aku terkejut.
“Ya... Buat kamu, dek. Buat kita.”  Suaranya lesu.
Kalau aku tidak cepat mengambil inisiatif pasti Mas Salah akan kecewa. Tak ada cara lain selain...
“Mas, ayo di bawa kemari. Di taro berhadapan ya... tuh, bagus kan?” Aku segera mencairkan suasana yang mulai tegang. Mas Salah tak berkata sepatahpun. Ia hanya melihatku tak mengerti.
Setelah para pegawai pulang, aku menggandeng Mas Salah duduk di depan TV. Menatapnya penuh arti. Tersenyum semanis mungkin di hadapannya. Kucoba membuatnya sedikit senang dengan sikapku.
“Dek, kan mas sudah bilang kalau...”
“Mas Salah... Arum masih punya gaji bulan ini. Masih utuh, belum Arum gunakan sedikitpun.” Aku memotong kalimat Mas Salah dan memperlihatkan buku tabunganku. Di sana tercetak jumlah gajiku bulan ini. Mata Mas Salah terbelalak. Ia tak percaya.
“Ini, dek....?! kamu nggak bohong kan sama Mas?”
“Nggak. Itu memang gaji Arum bulan ini. Arum beli lemari dari uang bonus dan honor menulis.”
Mas Salah menatapku dalam-dalam. Air matanya keruh.
“Dek, dek.... Mas kan selalu bilang. Ya.... Kamu tuh yang hemat sedikit jadi orang. Semua uang kamu bisa kamu simpan kan? Jangan dibelanjain semua...” Ceramahnya.
Mas Salah, masalah lagi. Mas Salah kan tidak bilang kalau kemarin mau membeli lemari itu kalau gajian. Kalau aku bisa membeli sendiri, kenapa aku harus menunggu. Memanglah.... ini benar-benar masalah dengan Mas Salah.
MAS SALAH mengajakku ke pesta pernikahan teman sekantornya. Aku jadi bingung mau pakai baju apa. Baju-baju pemberian Mas Salah sepertinya kurang cocok untuk acara malam. Satu-satunya baju yang pas untukku adalah baju krem yang aku beli di butik bulan lalu. Yang jadi masalah bagi Mas Salah.
Aku tampil anggun dengan gaun itu. Pemilik butik bilang ini pas untuk segala suasana dan acara. Benar saja. Aku tampak lebih cantik dengan baju ini.
“Lho, dek... Apa kamu nggak ingin pakai baju yang Mas beli di Singapura itu?” Tanya Mas Salah begitu aku muncul di depan pintu kamar.
“Baju ini nggak bagus ya, mas...?!” Aku kecewa, mulanya aku pikir Mas Salah akan memujiku. Tapi kebalikannya, ia menyuruh ganti.
“Bagus, sih... Tapi mas pengen lihat kamu pakai baju merah muda itu, dek.”
Mau tak mau aku mengalah. Setelah perdebatan lima belas menit. Aku merombak ulang dandananku. Memakai baju merah muda yang menurutku sama sekali tidak cocok dengan suasana pesta yang kalem. Apalagi siang hari. Tapi mau gimana? Omongan suami tetap harus diikuti.
Aku pikir aku akan malu di pesta. Ternyata nggak, aku sama sekali tidak merasa dipermalukan. Mas Salah menggandengku sangat mesra, dan memperkenalkan aku pada teman-temannya. Hampir semua orang memujiku sangat cantik.
“Mbak Arum... Gaunnya bagus sekali. Pasti mahal.” Puji seorang perempuan muda. Dia menatap gaunku dengan muka pengen.
Mas Salah sangat senang mendengar pujian untukku. Katanya istrinya cantik, dia cukup bangga. Dia tak hentinya mengatakan pemberiannya tetap yang terbaik. Mas Salah juga membandingkan, kalau aku memakai baju krem, pasti tak kan ada pujian seperti itu untuknya, untukku. Kalau begini, ia merasa lebih adil. Sepertinya pujian itu suatu masalah juga bagi Mas Salah.

MALAM ISTIMEWA ini aku akan memasak rendang untuk Mas Salah. Katanya ia akan makan di rumah. Sekian lama aku menjadi istrinya, ia paling malas makan siang di rumah. Kalaupun kami sama-sama punya waktu, ia lebih memilih mengajakku makan siang di luar. Apalagi kalau awal bulan.
Malam ini Mas Salah akan makan di rumah. Rasa senang menyelimuti hatiku. Alangkah bahagianya aku bisa masak untuk Mas Salah. Rasanya aku telah menjadi istri yang sesungguhnya. Bukan perempuan yang hanya pulang, pergi dan disibukkan dengan karir.
Salam Mas salah terdengar dari ruang tamu. Mas Salah sudah pulang. Tumben, harusnya dia pulang sekitar dua jam lagi. Mungkin ini bagian dari rencananya.
“Dek, aku dapat informasi bagus lho untuk kamu. Tapi menyedihkan buatku.” Mas Salah langsung menyusulku ke dapur lengkap dengan pakaian kerjanya.
“Kabar apa, Mas?” Tanyaku sambil memotong-motong daging.
“Kita makan di luar saja, dek. Dagingnya masukin kulkas saja. Ntar kamu capek, jadi apa yang aku sampein nggak nyambung lagi” Ujarnya.
Aku lemas. Aku sudah capek belanja, membersihkan daging dan menyiapkan bumbu. Eh, Mas Salah malah mengajakku makan di luar. Bagaiamana sih....?!
“Aku ngambek, mas. Bilang sekarang saja” Aku merajuk. Tak kuhentikan kerjaku. Aku bertekad untuk memasak. Mas Salah sepertinya mulai membatalkan niatnya mengajak makan di luar. Ia ingat menyuruhku memasak di rumah.
“Beasiswamu udah keluar, dek. Kamu udah dipanggil dari Universitas Tokyo” Ucapnya pelan. Aku terkejut dan melonjak-lonjak sambil memeluk Mas Salah. Terlupa Mas Salah masih memakai baju kerja.
“Dek.... Tuh kan.... Kotor, deh”
Aku membasahi bajunya dengan air keran. Kami malah main siram-siraman. Mas Salah.... Terkadang tidak membawa masalah.

Darussalam, 13 Juni 2009