Kamis, 15 Desember 2011

Menunggu Harta Gono Gini

Ruang kelas kotor, debu tebal, sekitar kampus becek bila musim hujan datang, dan rumput hijau menjadi lahan makanan ternak-ternak. Itulah pemandangan yang setiap hari kita nikmati di area kampus IAIN Ar-Raniry. Masuk ke ruang kelas, kita hanya menatap bangku-bangku tak layak pakai berserakan. Whiteboard yang lebih pantas di sebut blackboard-pun rasanya tak pantas di letakkan diruangan tempat Mahasiswa menggali ilmu. Inikah yang dinamakan kampus?
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry, yang terletak di jl. Syekh Abdurrauf ini menjadi salah satu potret pendidikan Aceh, khususnya untuk pendidikan yang lebih berbasis pada keagamaan. Tidak ada ruang impian tempat meraih mimpi, hanya ada rencana yang terus menerus di janjikan.
Standard sarana n prasarana seperti ruang kelas bersih lengkap dengan whiteboard ­­merupakan inti dari lancarnya perkuliahan. lab  dan dosen ahli yang memadai tak kalah penting sebagai bagian dari suksesnya pendidikan. Laboratorium, mungkin terlalu penting bagi jurusan social, tapi bagi jurusan exacta, justru inilah asset terpenting tempat mereka berkreasi.
Setahun lalu, Islamic Development Bank (IDB) telah membahas planning tersebut sebagai salah satu program rekontruksi IAIN. Dalam bahasan lanjutan, menurut Dr. H. M. Nasir Budiman, MA, pembantu rector I, menyatakan bahwa pembangunan IAIN akan di laksanakan akhir 2007, setelah beberapa bulan sempat  tertunda.
Dana sebesar 350 Miliar, setelah di potong tersisa 330 Miliar ini rencananya di gunakan untuk rehab gedung, dan menyediakan fasilitas akademik. Tendernya di pegang oleh BRR dan ada satkernya tersendiri. Diawal tahun 2007  pihak biro baru akan melaksanakan workshop untuk merancang desain detail dan akan di realisasikan pada tahun ini juga.
Pihak rektorat tidak ada keterkaitan dalam masalah pembangunan ini, karena rehabilitasi ini merupakan bantuan dari IDB. Prosedur diberikan kepada pihak IAIN juga sangat dipertimbangkan oleh pemerintah. Dalam hal ini, IAIN hanya terima beres kapanpun hasilnya akan di berikan.
Seperti yang pernah dijanjikan Yusni memperbaiki fasilitas kampus, seperti pengecatan kampus, memperbaiki pagar yang ambruk saat gempa 26 Desember 2004 lalu memang belum sepenuhnya ditepati. Pihak rektorat saat ini sedang menunggu anggaran DIPA, dana anggaran dari pusat. Karena perbaikan tersebut tidak terhitung dalam program pembangunan dari IDB.
Dana dari DIPA di targetkan keluar pada bulan April 2007. namun, pembangunan pagar yang akan di bangun bukanlah pagar permanent. Hanya pagar yang sifatnya sementara untuk mencegah masuknya ternak-ternak.
“Paling-paling kita cuma bisa buat pagar kawat. Untuk pagar permanent kita harus menunggu dana dari IDB, kita nggak mungkin membangunnya, karena  biaya yang dibutuhkan mahal sekali. Yang penting kan kerbau-kerbau tidak masuk lagi.” Ujar pembantu rector bagian ekonomi dan pembangunan.
Untuk pemasangan paving block pun rektorat masih mengharapkan kemurahan hati IDB, apalagi memugar museum Safwan Idris yang bakal menghabiskan dana ratusan juta rupiah. Dana yang di berikan untuk proses pemugaran museum telah di gunakan untuk pembangunan gedung pasca sarjana. Dalam waktu dekat anggarannya di gantikan oleh JIG. Museum memang akan di museumkan diganti dengan pembangunan wisma sebagai tempat pelatihan, pelaksanaan kegiatan ilmiah dan micro teaching. Pembangunannya di rencanakan akan selesai pada tahun 2010.
KTM berfungsi ganda
Dalam waktu dekat IAIN akan memiliki koneksi internet. Sehingga ke depan Mahasiswa dapat mengisi KRS secara online. Sistem ini telah di praktekkan oleh universitas negeri di kota Jantong hatee rakyat Aceh, Universitas Syiah Kuala. Penyediaan wartel yang pernah dijanjikan oleh Yusni juga masih di pertimbangkan dalam pengadaannya.
Tawaran wartel dari perusahaan untuk membuka Badan Hukum pendidikan (BHP) telah datang beberapa waktu lalu. Atas pertimbangan terlalu memberatkan Mahasiswa, tawaran ini masih dipertimbangan. Dengan adanya sistem BHP, IAIN tidak lagi dibantu oleh pemerintah. Artinya perguruan tinggi negeri dengan metode swasta yang akan berjalan disini, seperti ITB dan UGM telah menjalankan metode ini.
Biaya pendidikan yang di setor setiap semester tidak mencukupi apabila IAIN tetap menjalankan sistem ini. Tapi mamanfaatkan fasilitas yang ada untuk sistem bisnis tentu ada.
“Kita cuma mengarah kearah bisnis, seperti bank. Kita bisa mematok dana sedikit dari BPD Syariah. Kita juga berencana membuka setoran SPP lewat ATM. Jika Mahasiswa setuju, tahun depan kita akan membuat KTM yang berfungsi ganda, sebagai tanda Mahasiswa dan ATM. Kita juga akan buat peraturan baru SPP plus Rp. 100.000,- uang itu tidak bisa diambl lagi, tapi kita tidak terapkan uang pemeliharaan ATM seperti pada bank konvensional.” Tambahnya.
Dengan adanya kemudahan ini, penyetoran SPP akan di permudah dengan mencicilnya. Setiap bulan Mahasiswa bisa menyetor berapa saja hingga ketika satu semester uang yang di kumpulkan selama beberapa bulan mencukupi, maka pihak bank akan memotong langsung dari tabungan Mahasiswa.***

Tulisan ini berdasarkan wawancara dengan Nasir Budiman, pembantu rector II IAIN.

Beda Tradisi Ospek IAIN

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEMA) IAIN Ar-Raniry 20 Juli lalu, menyeleng-garakan perkenalam kampus, untuk mahasiswa baru, Orentasi perkenalan kampus (ospek)  yang dilakukan agak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, mengingat tahun sebelumnya perkenalan kampus ditiadakan oleh Rektor, menimbang dari berbagai pertimbangan dan melihat perkembangan orentasi tidak lagi pada dasarnya,
Ospek yang dilaksanakan selama tiga hari mulai dari tanggal 20 sampai 22 juli 2006, diikuti oleh 1251 peserta, pembagian pelaksana telah di bagi dalam tiga pos yaitu untuk BEMA satu hari, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMAF) masing-masing fakultas dan dan selanjutnya dilaksanakan jurusan yang ada di IAIN Ar-Raniry.
Menurut Lukman Ibrahim, Pembantu Rektor III bidang mahasiswa, mengatakan “Pelaksanaan ospek tahun ini dilaksanakan oleh panitia bersama yang dirangkul dari perwakilan dari masing-masing fakultas dan jurusan. Panitia bersama itu diberi nama Syedara (Syar’i dengan Ar-Raniry), yang bertemakan “Islam is the way of life” yang maksudnya “islam merupakan jalan hidup”.
Dengan menggunakan sistem MSQ, (Motivations and Spiritual Questions), bertujuan untuk memberikan motivasi kepada mahasiswa-mahasiswi baru serta kepada calon instruktur Ospek di bekali dengan materi MSQ. Karena menurutnya MSQ ini punya peranan yang bagus untuk menata prilaku, semangat dan juga sikap para mahasiswa lama, sehingga ketika melakukan ospek, mereka betul-betul di bawah bimbingan akademik dan bimbingan agama”. Dan tujuan utama dari MSQ ini  adalah memberikan semangat dan motivasi baru bagi mahasiswa baru itu sendiri, bukan justru di bentak-bentak dan disuruh yang kurang sesuai dengan norma-norma yang berlaku, dan ini tidak bisa terlaksana apabila training ini tidak diterapkan, “ujar nya”
Perubahan pola pelaksanaan ospek yang dilakukan oleh Pihak Biro IAIN Ar-Raniry  dari pola konvensional kepada pola modern ini, di karenakan oleh pengalaman yang dilakukan di masa lalu yang tidak sesuai kepada mahasiswa baru. Perubahan pola dari konvensional kepada modern dinilai tidak mudah dan membutuhkan proses untuk bisa di terima dikalangan elemem mahasiswa, “Ini kan baru pertama kali di terapkan di IAIN, walau bagaimana pun ini membutuhkan proses yang panjang” Ungkap Lukman. Perubahan pola ini di nilai banyak efek positifnya, karena menurut pengakuan Pembantu Rektor III itu metode MSQ ini telah duluan di terapkan pada Dosen-dosen yang ada di IAIN sendiri beberapa waktu silam.dan sangat efektif dalam menata sikap dan prilaku dan juga kedisiplinan, makanya  pola ini di terapkan didalam pelaksanaan ospek tahun ini. Dan apabila pada tahun kedepan bisa menggunakan pola MSQ ini maka pola ini pun akan dilanjutkan dimasa yang akan datang dan disaring dan diadopsi untuk penerapan dimasa yang akan datang. Di pola konvensional itu kan masih ada pola-pola dan cara-cara yang tidak menjamin untuk tidak terjadinya perlakuan-perlakuan tidak wajar, dia mencontohkan dalam hal pencarian tanda tangan dosen-dosen dan orang-rang penting yang ada di IAIN, “Apakah mungkin dalam waktu yang sedemikian singkatnya mereka mendapatkan tanda tangan itu. Apa pesan-pesan yang mau disampaikan dengan pola tersebut itu harus jelas” ungkap Lukman. “Karena boleh saja itu dilakukan tapi dengan pola menghadirkan orang-orang penting itu membuat dialog didalam forum, dan menjelaskan motonya masing-masing” tambahnya.
Walau bagaimana pun halnya pelaksanaan ospek tahun ini di nilai efektif dan boleh dikatakan sukses, karena menurut pantauan Biro hampir tidak ada pelanggaran-pelanggaran. Lukman mengharapkan supaya dimasa yang akan datang pelaksanaan ospek akan bisa lebih baik lagi.
Nasir Budiman Pembantu Rektor Bidang Akademik, sistem pelaksanaan ospek dari dulu sampai sekarang masih ada  perasaan unjuk kuasa, unjuk kekerasan, dan pola ini sudah dimulai dari semenjak zaman Soekarno. Padahal pola ospek yang diajarkan tidak seperti itu. “Padahal masuk perguruan tinggi melatih kita untuk menjadi seorang pemimpin. Bukan menunjukkan kekuasaan. dan dalam kegiatan ospek itu lah kita diajarkan untuk bisa menjadi seorang pemimpin” Ungkap Nasir. Memang dulunya ada kegiatan yang dinilai berbentuk kekerasan seperti memakai atribut dan pakaian-pakaian jelek dan mereka di suruh membawa perlengkapan barang-barang rongsokan, seperti membawa kaleng susu bekas yang diikat di leher dan atribut-atribut lainnya. Nasir Juga menyebutkan “Sebenarnya pada mulanya bagus, ini sebagai ajang untuk memperkenalkan bahwa harusnya seseorang mahasiswa itu kerja keras, mendidik kedisiplinan dan tahan terhadap segala penderitaan dan tidak bermain-main dalam menuntut ilmu”. Akan tetapi sekarang ini metode dan pola ini telah dilanggar dan di salah gunakan oleh oknum-oknum mahasiswa,sehingga di beberapa perguruan tinggi kegiatan seperti ini menjadi ajang peloncoan yang berimbas pada generasi berikutnya

Kontraversi
Pelaksanaan ospek memakai sistem MSQ (Motivations and Spiritual Questions), yaitu salah satu metode pemberian motivasi keagamaan dalam pelaksanaan ospek. Hal ini di tanggapi serius dan juga menimbulkan berbagai kontroversi di kalangan mahasiswa IAIN Ar-Raniry sendiri., menerima berbagai materi perkenalan kampus.
Menurut Safriadi selaku Gubernur Fakultas Ushuluddin mengungkapkan bahwa, “sistem pelaksanaan ospek tahun ini sangat bagus karena menuju sistem yang amat modern lain dari pada yang lain”. Dia menambahkan, “Meskipun terjadi keributan di beberapa fakultas, mereka adalah pihak-pihak yang belum mengerti akan sistem ini”. 
Mufti seorang alumni  Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry mengatakan bahwa, sistem pelaksanaan ospek tahun ini sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Dia melihat pelaksanaan ospek menggunakan sistem MSQ kurang tepat untuk dilaksanakan di IAIN, karena dengan menggunakan sistem yang demikian akan bisa berdampak buruk terhadap IAIN sendiri, dia menambahkan “Masak kampus IAIN yang dinilai islami oleh masyarakat ternyata yang terlihat seolah-olah anarkis dan penuh dengan kekerasan. Apakah IAIN tidak malu dengan pernyataan masyarakat seperti itu, Seharusnya IAIN itu bercermin.”
Manajemen ospek umumnya sangat buruk karena tidak terpola. Panitia hanya mempunyai program tetapi tidak dilengkapi dengan standar yang matang. "Malah pelaksanaannya cenderung ngawur karena tujuannya tidak jelas," ujar salah seorang alumni IAIN Ar-Raniry, yang juga pemerhati kampus, “ujar zamzami mantan Gubernur Dakwah.”
.


Pola-pola kekerasan

Sejak berdirinya IAIN Ar- Raniry, 5 Oktober 1963. ospek (orientasi pengenalan kampus) sudah mulai ada. Hanya saja sistem pelaksanaannya yang berbeda dan terus menerus berkembang seiring perkembangan zaman. Hampir setiap tahunnya pelaksanaan ospek yang dilakukan oleh setiap perguruan tinggi menganut sistem kekerasan. Secara umum baik fisik maupun non fisik. Kekerasan ini bukan rahasia terjadi dalam setiap ospek. Tetapi Rektor IAIN sendiri mengecam bahwa “kekerasan dalam ospek tidak sah. Kekerasan itu kejahatan dan itu hal sangat melanggar, baik ospek sekarang maupun sebelum ini.” Sistem ospek atau perpeloncoan merupakan miniatur dari kehidupan bangsa indonesia. Orang yang belum memiliki atau memegang tampuk kekuasaan tidak dapat berkuasa. Tetapi, ketika mereka naik derajat dan mendapatkan kekuasaan, maka berkuasalah dia. "ambruklah bangsa ini kalau semua seperti itu. Ini harus diubah," ujar Feri salah seorang mahasiswa Unmuha kepada krue sumberpost. Lain halnya wahyudi, dia mencontohkan  pendidikan di negara-negara Barat yang lebih berhasil dengan pengenalan sekolah yang lebih bersahabat. Misalnya saja, pengenalan bagian-bagian sekolah dengan cara berkeliling ke bagian-bagian di sekolah. "Maka, tidak heran kalau sistem pendidikan di negara Barat lebih mendominasi di dunia. Jadi, kenapa kita tidak mencontoh mereka?" kata Yudi

Kenyataannya yang seperti ini dalam kegiatan ospek sudah biasa terlihat, malah tidak asing lagi unjuk kekuasaan para oknum-oknum senior di praktekkan. Bahkan ada beberapa universitas pernah dikabarkan melakukan tindakan kekerasan dalam ospek. Hingga ada beberapa mahasiswa menjadi korban. Seperti tersiram air keras, bahkan ada yang meninggal dunia dalam kolam renang. Karena ketidakwajaran oknum-oknum senior pada masa ospek.

Hal seperti itulah yang terjadi di dunia pelonco sekarang ini, sehingga pada puncaknya sering terjadi korban luka atau meninggal. Belum lagi kalau ada mahasiswa baru yang melakukan perlawanan, resistensi, ini yang mempercepat kemunculan teori kalap. Diperintah seniornya, mahasiswa baru tidak menurut, semakin dibentak, mahasiswa baru berpikir kok saya dibeginikan, lalu ngeyel, senior makin nekat, dua-duanya nekat, hal itulah yang sering terjadi. Pada awalnya mungkin hanya interaksi dua manusia, tetapi lama-kelamaan bisa kelompok, karena ada solidaritas kelompok.

Bentrokan bisa meluas antara mahasiswa lama dan baru, bukan hanya dengan panitia pelonco. Semua itu gara-gara superioritas, apalagi tak jarang arena pelonco menjadi lahan mencari jodoh bagi mahasiswa senior, mereka ini tentu ingin menunjukkan kekuasaannya di depan mahasiswa baru. Sebenarnya, dalam kehidupan sehari-hari, gambarannya tak jauh berbeda, jika seseorang diberi kekuasaan, dia akan menunjukkan siapa dirinya.

Walau berbagai tanggapan miring terhadap pelaksanaan ospek tahun ini dari luar Rektor IAIN Ar-Raniry, sangat mendukung  prosesi ospek yang dilaksanakan oleh fakultas-fakultas dan jurusan. Dia sendiri sangat menentang adanya kekerasan dan unjuk kekerasan. Seperti halnya perburuan tanda tangan, beliau menanggapi positif. ”Apapun materi diberikan instruktur sangat berguna. Tidak ada seorang instruktur menyesatkan adik-adiknya. Bahkan pencarian tanda tangan, yang selama ini dianggap nggak berguna sangat perlu untuk perkenalan dengan dosen, Rektorat, Fakultas,  BEM, dan BEMAF.” Tambahnya”

Panitia  diadakan  TOT.
Dalam pelaksanaan ospek tahun ini IAIN melakukannya agak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, karena proses perekrutan panitia ospek, pihak Rektorat IAIN Ar Raniry membekali instruktur dengan Training of Trainer (TOT). TOT ini Berlaku untuk tingkat institut sampai tingkat jurusan. Pertama, Mekanisme kita mulai rekrutmen peserta TOT untuk instruktur sebanyak 70 orang. Dua, instruktur terdiri dari komponen HMJ, BEMAF dan BEMA. Pembekalan ini disajikan oleh tim Al Zikri, kerjasama dengan BEMA dan BIRO IAIN Ar- Raniry. Materi yang di berikan adalah MSQ pemberian motivasi (motivation) kepada mahasiswa baru sehingga mareka  mempunyai semangat dan etos kerja yang baik dalam mengikuti kegiatan perkuliahan.

Pembantu Rektor III IAIN Ar-Raniry, Lukman Ibrahim juga membentuk satu kepanitiaan besar dalam ospek yang di beri nama syedara (Syar’i Dengan Ar-Raniry). Dan kepanitiaan tersebut di bawah di tangani di bawah kepengurusan BEMA IAIN Ar- Raniry sendiri. “Panitia bersama kita laksanakan agar kita bisa laksanakan secara seragam dengan pola yang sama. Karena tahun ini kita laksanakan dengan pola yang berbeda. Karena tahun ini kita adakan perubahan pola. Dari pola tradisional menjadi pola modern” ungkap lukman kepada Krue sumberpost ketika ditanyai masalah panitia bersama tersebut.
Pembantu Rektor III juga mengambil tindakan tegas bagi peserta yang tidak mengikuti ospek. Mereka akan di beri orientasi khusus. Tindakan ini diambil untuk memberi pengalaman yang sama dan mengajarkan suatu bentuk kedisiplinan yang tinggi bagi mahasiswa.
“Sebelum mengikuti orientasi, kita tidak yakin mereka bisa mengikuti perkuliahan dengan baik, tidak bisa kenal kampus dengan baik. Kita akan panggil dan setiap individu kita akan berikan sertifikat dan sertifikat itu merupakan prasyarat mengambil dokumen-dokumen kelulusan.”  Jelas Lukman mempertegas.
Dalam proses pemberian materi khusus bagi mahasiswa-mahasiswa yang tidak mengikuti kegiatan ospek ini, pihak Rektorat juga membentuk kembali kepanitiaan khusus. Apakah akan direkrut dari pihak rektorat atau dari pihak panitia ospek lalu, yang jelas itu akan di laksanakan dan tunggu aja kapan tanggal mainnya. Dan sampai sekarang kepanitiaan tersebut belum terbentuk karena harus ada pendataan terlebih dahulu. “Kita harus data dulu, karena siapa tau ada mahasiswa yang sudah lulus tahun lalu tidak ikut lagi tahun ini.” Tambahnya lagi. Pengalaman menggambarkan bahwa mahasiswa yang telah mengikuti kuliah di salah satu fakultas mengikuti testing lagi di tahun kedua dan memilih jurusan di fakultas yang berbeda. Misalnya ada mahasiswa yang telah lulus pada fakultas A dan telah mengikuti ospek pada tahun lalu. mereka tidak harus mengikuti ospek lagi pada tahun ini.




Pengutipan dana tambahan
Dalam rangka perubahan tahun ajaran barunya seiring dengan perubahan metode ospek yang berpola ospek secara konvensional menjadi pola modern, tahun ajaran 2006-2007 ini Biro IAIN Ar-Raniry sendiri tidak melakukan kutipan secara berlebihan seperti tahun-tahun sebelumnya, Meskipun dari masing-masing BEMAF ada juga melakukan  kutipan dana tambahan, itu pun hanya untuk kebutuhan konsumsi bagi para peserta ospek itu sendiri selama mereka berada di fakultas dan jurusan. Dan dana yang pertama dikutip sebanyak 5000 oleh pihak Panitia bersama ketika mereka pertama mendaftar ospek di halaman Biro IAIN, dan ditambah 10.000 lagi ketika mereka kembali mendaftar ospek di tiap-tiap fakultas. Akan tetapi menurut pengutipan dana tambahan ini di nilai tidak terlalu memberatkan peserta ospek. Menurut pengakuan Dede, salah seorang peserta ospek, pengutipan ini wajar-wajar saja dilakukan karena ini bentuknya jelas untuk kebutuhan kami, dan juga sistem pengutipannya juga dinilai transparan. “Itu kan untuk kebutuhan konsumsi kami selama 3 hari selama mengikuti ospek tersebut, dari pada kami harus capek-capek membelinya di luar. “Lagi pula waktu istirahatnya tidak banyak, hanya cukup untuk waktu shalat, itu sangat membantu” tambahnya.

Ospek harus berpakaian islami
   Pelaksanaan Ospek tahun ini sudah termasuk memenuhi kriteria standar ospek. Mahasiswa baru yang masuk ke institut kita harus ada kebanggan tersendiri. Karena selama kuliah bisa memakai fasilitas-fasilitas yang ada. Dia juga bisa cinta fakultasnya, sehingga ia sadar akan kesehatan lingkungannya. Jadi rasa memeliki itu ada. Dulunya mereka nggak ada rasa ingin memiliki.
Syarat-syarat dalam ospek dibuat bersama. Antar pembantu Rektor (Purek) III dan Pembantu Dekan (Pudek) III dari tiap-tiap  fakultas, termasuk dalam berpakaian. Panitia dan peserta tidak di benarkan memakai jeans dan berpakaian ketat. Apabila di temukan pelanggaran tersebut maka akan di kenai sanksi. Tapi kenyataan membuktikan bahwa sampai sekarang masih juga ada panitia dan instruktur yang melanggar peraturan tersebut. Apakah peraturan itu dibuat hanya untuk di langgar bukan untuk dilaksanakan, kalau begitu halnya bagaimana kita bisa menuju kepada suatu arah yang mencerminkan perubahan yang berarti.

A. Rahman Kaoy: Menyurati Presiden Demi Dakwah

Senja baru saja turun di ufuk barat. Meninggalkan terik menyambut mendung yang kembali bergelayut di kawasan Lamprit. Tempat bermukim seorang umara aceh saat ini. Menjelang berbuka puasa, wartawan Sumber post meninggalkan rumahnya dengan berbagai kesan tertinggal. Kesan bersahabat dan bersahaja seorang pemimpin, kesan yang jarang sekali didapatkan dari sosok leader. Sambutan baik, dan menghargai tamu membuat image beliau sebagai seorang tokoh benar-benar mencuat.
Ramah, kharismatik, lembut dan berpembawaan tenang. Begitu rasa yang timbul  ketika kita bertemu dengannya. Sosok Ayah begitu melekat pada dirinya sehingga sedikit banyaknya mengobati rasa rindu kita kepada sang ayah. Ketika kita dekat dengannya, kita dapat menggali ilmu apa aja yang tersembunyi di balik wajah tuanya.
Beliau adalah umara, salah satu tokoh terpandang di Aceh. Ulama, pengamat budaya, dosen, dan orang yang dituakan. Apapun sebutan untuk dirinya, ia tetap orang terpandang. Ia juga  sosok yang selalu diincar-incar pada masa mudanya. Ia begitu bijak dalam menyampaikan dakwah. Mahasiswa lebih mengenalnya dengan mantan Dekan Fakultas dakwah periode 2001-2004. siapa lagi kalau bukan Drs. H. Rahman Kaoy.
Rahman kaoy dilahirkan di Geulumpang Minyeuk, Kabupaten Pidie 64 tahun yang lalu. Tepatnya 20 juli 1942. Tiga tahun sebelum Indonesia merdeka. Saat ini Rahman Kaoy tercatat sebagai wakil ketua di majelis adat aceh(MAA), ketua pengurus masjid Al Makmur-Lamprit, anggota DPU (Dewan Pernusyawaratan Ulama) perwakilan Aceh, dan ia juga dikenal sebagai tokoh pertama pendiri ISKADA ( Ikatan Siswa Kader Dakwah).
Meniti karier kepemimpinan beliau bukanlah jalan setapak yang harus dititi perlahan. Tapi jalan panjang berliku yang perlu diberi penghargaan plus. Mulai sejak beliau menimba ilmu di SRI Beureunun sampai sekarang. Tahun 1966-1967 beliau di percaya menjadi ketua plonco untuk mahasiswa baru ditingkat institute. Satu kiprah kepemimpinan beliau mulai muncul. Pada tahun 1994-2000, Rahman Kaoy menjadi asisten Ali Hasymy  pada tahun 1975 karena kepandaian beliau menghargai waktu.
Saat itu Ali Hasymi menjabat dekan Fakultas Dakwah yang pertama. Atas dasar saran belaiu juga Rahman Kaoy masuk Fakultas Dakwah bersama beberapa temannya. “ Rahman, apabila kamu tidak selesai kuliah di Fakultas Ushuluddin masuk aja di Fakultas Dakwah” ujarnya meniru ucapan Ali Hasymi. Kedua temannya yaitu : Jakfar Muhammad dari Fakultas Syari’ah , Azhari Hasan dari Fakultas Tarbiyah. Mereka bertiga mendapat hak istimewa, ketiganya tidak lagi masuk kuliah seperti mahasiswa pada umumnya, dosen-dosen memberi tes lisan untuk mereka selama tiga hari. Ketiganya di tes membaca hadist dan tafsir. Kecerdasan mereka membawa kelulusan dan hasil yang cemerlang. Rahman dan tiga temannya dinyatakan lulus test memperoleh gelar DRS.
Tahun 1963, beberapa tahun setelah beliau menuntut ilmu di IAIN Rahman pun diangkat menjadi seorang ketua seksi penerangan masyarakat di dewan mahasiswa yang dikenal sekarang dengan sebutan biro dakwah. Kemudian dia juga pernah membuat musyawarah mahasiswa dakwah (musada) atau juga dikenal dengan aksi jual beras terhadap dosen. Hal itu dilakukan masih untuk kepentingan dakwah. Masa itu peranan mahasiswa sangat penting dalam pengembangan dakwah. Khususnya dalam mempromosikan IAIN kepada public, sehingga pada tahun-tahun 60-an mahasiswa di IAIN membludak.
Selanjutnya tahun 1966 beliau juga membuat pelatihan dakwah yang lebih ngetrend disebut latihan pidato Darussalam yang diikuti oleh 400 orang peserta. Peserta tersebut berasal dari kalangan mahsiswa. Kadar  -kader dakwah tersebut saat ini menjadi orang-orang penting dikalangan IAIN sendiri. Diantaranya Dr. Arbiyah Lubis, Dr. Muslim Ibrahim, Prof. Dr. Rosmitumanggu.
Sejak duduk di SMU ditahun 1955-1956, beliau sudah dipercayakan menjadi seorang tenaga pengajar di MIN  Sanggeu, satu desa yang terletak di Kabupaten Pidie. Ia menjadi seorang guru agama sejak tahun 1960 sampai tahun 1962.                                                                                                                         Saat itu peran seorang guru bukan profesi berharga dan sangat minim sekali. Saat rahman menjadi salah seorang pendidik sekolah tersebut, hanya ada seorang pengajar saja. Ia seorang kepala sekolah yamg merangkap guru pengajar kelas I- I I I, sedangkan Rahman menjadi guru kelas  I V – V I.                                                                                                                                                                                                           
Tahun 1986 beliau diundang oleh orang kedua Negara Brunei Darussalam untuk memberikan dakwah islam di provinsi Tutong. Disana ia diberi fasilitas lengkap dan ditawarkan menjadi pengurus mesjid. Bahkan penguasanya pun tidak ingin tokoh masyarakat Aceh ini kembali ke tanah kelahirannya. Mengikuti kata hati dan dorongan teman-teman Rahman menolak tawaran menggiurkan tersebut. Apalagi Hasan Basri         (dekan dakwah) sudah tua. Baginya “ Hujan batu dinegeri sendiri lebih baik dari pada hujan emas dinegeri orang.”
Ayah mahasiswa dakwah ini juga dikenal sebagai seorang da’i. beliau bercerita, mulai tertarik pada dunia dakwah sejak masih menuntut ilmu di SRI (sekolah rakyat Islam), suatu sekolah yang dibentuk pada masa penjajahan Belanda. Pengajaran ilmu dakwah mulai di bentuk sejak mereka masuk sekolah tersebut. Rahman kaoy mulai mengecap pendidikan di SRI pada tahun 1955. beliau memperoleh gelar sarjana muda dari Fakultas Ushuluddin jurusan dakwah pada tahun 1965, dan gelar sarjana lengkap dari fakultas dakwah pada tahun 1967. tapi karena sesuatu dan lain hal kuliah rahman terhambat. Sebagai aktivis, beliau lebih mengedepankan kepentingan dan kegiatan kemasyarakatan.
Berkecimpung didunia dakwah diusia muda, memang suatu prestasi gemilang. Selain perannya sebagai seorang penyeru di jalan kebaikan, beliau juga punya satu misi pada saat itu. Menurut rahman ia memasuki dunia dakwah karena ingin membantu pembagunan sekolahnya pada masa itu. Sejak muda ia bersama teman-teman seperjuangannya pun rela menghabiskan waktu dakwah demi pembangunan tersebut. So, jangan heran kalau saat ini beliau begitu disegani , karena dari duduk di bangku SRI sampai memakai toga.
Sebelum menjabat sebagai dekan Fakultas Dakwah, beliau terlebih dulu menjabat sebagai pembantu dekan 3 fakultas dakwah. Kepemimpinan beliau menggantikan Prof. DR. H. Rusjdi Ali Muhammad, SH sebagai Dekan, Rusjdi sendiri naik jabatan menggantikan rektor sebelumnya, Prof. DR. Alyasa Abubakar, MA pada tahun 2001.
Pada masa jabatan dekan ditangannya, Rahman Kaoy pernah marah melihat kondisi fakultas yang sangat terpuruk. Beliau menyurati Rektor IAIN, tapi rektor sendiri nggak ambil pusing dengan surat yang dikirimkan rahman.
Demi perkembangan Fakultas Dakwah kearah yang lebih baik, beliau menyurati instalasi pemerintahan demi mendapatkan funding. Rahman sadar sekali bagaimana mungkin fakultas ini akan memperoleh kemajuan tanpa memiliki dana. Sebelumnya Rahman pernah menyurati rector IAIN tapi sayangnya rector tidak ambil pusing dengan kemajuan fakultas.
Rahman juga tidak segan-segan menghubungi alumni Fakultas Dakwah yang kini telah berhasil seperti Nasir Jamil (Anggota MPR- RI) dan Azman Usmanuddin (Bupati Aceh timur sekarang) untuk meminta dana.
Masa kejayaan dan kekuasaan pemerintahan Soeharto, Rahman memanfaatkannya untuk misi dakwah. Rahman pun menyurati berbagai macam elemen pemerintahan. Bahkan beliau juga menyurati Presiden kedua Republik Indonesia ini. Sayangnya, sekalipun tidak ada jawaban dari bapak pembangunan yang berkuasa selama 32 tahun.
Rahman tidak patah semangat. Dia masih melanjutkan mengirimkan surat kepada penguasa Indonesia. Beliau terus saja menyurati tiap elemen-elemen pemerintahan. Dan jawaban yang didapatkan baru pada masa Habibie berkuasa. Habibie membalas surat Rahman langsung ke alamat rumahnya. Surat yang berisi dukungan dakwah beliau benar-benar ditanggapi dengan serius oleh satu-satunya penguasa selama ini.
Satu hal yang membuat masyarakat bangga kini. Selama kepengurusan di mesjid Al Makmur, Lampriet kini sedang dalam proses renovasi. Sebelumnya beliau pernah meminta kepada Pemda NAD untuk membantu pembangunan mesjid ini. Karena mesjid ini telah luluh lantak dilanda tsunami tahun 2004. Rahman mengambil alternative mendatangi kedutaan kerajaan Oman di Jakarta. Disana beliau menjalin kerja sama dengan mereka.
Setelah jalan berliku dan penuh rintangan. Serta perjuangan panjang melelahkan, akhirnya pihak Oman memberi bantuan dana untuk rehabilitasi mesjid tersebut. Rahman kembali mendatangi pemda NAD untuk meminta rekomendasi demi kelancaran pembangunan.
Akhirnya satu cita-cita Rahman Kaoy terwujud. Bapak berkarakter bijaksana dan dekat dengan mahasiswa ini berpesan delapan hal pada para pemimpin. Pertama, kita selaku pemimpin kapanpun dan dimanapun harus selalu menyampaikan kebenaran, bersikap jujur. Karena seorang pemimpin harus memberi contoh yang baik kepada masyarakat. Kedua, kita harus berjuang tanpa pamrih. Ketiga, harus istiqomah. Keempat, harus bisa membangun hubungan baik dengan generasi muda. Kelima, harus tumbuh rasa percaya dan mempercayai. Keenam, ikhlas, tabah, dan sabar. Ketujuh, harus memanfaatkan waktu untuk belajar. Kedelapan, binalah hubungan komunikasi dengan berbagai pihak.
Semoga “ayah” yang telah lama berjuang mempertahankan kemajuan Fakultas Dakwah ini bisa menjadi motivator. Layaknya Umar Bin Khattab membina umat. Tentunya pemimpin yang bergerak di jalan dakwah.
Selamat berjuang bapak…. Semoga jejakmu masih ada yang telusuri.

Kemenangan Irwandi-Nazar: Awal Pesta Demokrasi Rakyat Aceh

15 Agustus 2005, titik awal untuk menyusun puzzle bernama Aceh. Pemerintah membuat perundang-undangan dalam Rancangan Undang-Undang Pemerintahan Aceh (RUU-PA), dan merancang satu program pemerintahan bernama demokrasi. Pemilihan kepala daerah (Pilkada), merupakan satu tonggak sejarah baru bagi Aceh. Setelah tepat satu tahun perdamaian, 11 Desember 2006 lalu pesta itu berlangsung.
Sepekan sebelum Pemilihan berlangsung, di awal Desember merupakan awal dari setiapcalon memperjuangkan belasan ribu suara untuk masa depan Aceh yang lebih baik. Beberapa pasangan kandidat menyuarakan visi dan misinya melalui kampanye. Berdasarkan keputusan dari Komisi Independen Pemilihan (KIP) mereka mulai berkampanye.
Spanduk, umbul-umbul, pertunjukan, pasar murah, konser artis dan buka puasa bareng adalah bagian dari kampanye tersebut. Bahkan dari setiap kandidat tak segan-segan mengeluarkan jutaan rupiah demi kelancaran kampanye dan harapan mendapatkan suara terbanyak.
Selama beberapa hari, halte-halte di penuhi dengan tempelan-tempelan stiker n poster. Warna warni stiker dan poster, serta baliho dan spanduk di sepanjang jalan memberi warna lain pada kota Banda Aceh. Pesta demokrasi yang bakal tercatat dalam rekor dunia ini menjadi lebih berkesan meski Banda Aceh terlihat lebih semak. Namun, KIP menyatakan bahwa pilkada yang terlaksana di Aceh beberapa hari lalu lebih kompleks.
Awalnya pemerintah sempat khawatir dengan keadaan Aceh. Nota kesepahaman Helsinki yang sangat terbelit-belit, disana tersebut, sampai 2009 DPRD Aceh tidak berkewenangan mengesahkan peraturan perundang-undangan tanpa persetujuan kepala Pemerintahan Aceh.
Pernyataan tersebut menimbulkan ancaman boikot oleh elemen di wilayah yang hendak memekarkan diri menjadi provinsi Aceh, lauser Antara dan Aceh Barat Selatan, karena mersa aspirasinya mersa kurang berakomodasi dalam RUU-PA.
Tapi pemerintahan tidak terlalu khawatir dengan ancaman boikot dua calon provinsi itu. Menteri dalam negeri, M. Ma’ruf menyatakan, dalam menjalankan pilkada yang ini NAD perlu payung hukum.
Mulanya di prediksikan pilkada Aceh akan berlangsung dalam 2 tahap dan akan ada penundaan dalam pelaksanaannya.

Detik-detik yang menegangkan
Senin, 11 Desember 2006 lalu, jalanan lengang, deretan toko sepanjang Jl. T. Nyak Arif, Darussalam bisu. Aktivitas akademik  dan rutinitas kesibukan kantor terhenti. Seolah ada komando dari salah satu pihak, kota pelajar jantong hatee rakyat Aceh terhenti bak kota mati.
Sekitar jam 9 pagi, satu dua orang mahasiswa mulai tampak memenuhi jalan. Melewati jalanan kosong, sesekali mata mereka mencari di dinding-dinding toko, berhenti didekat gerbang kopelma, memelototi pasangan-pasangan kandidat yang di tempel di sana.
“Aku pilih calon independen. Ini bagus.” Kata salah satu dari mereka. Dia menunjuk pasangan Irwandi-Nazar dengan nomor urut 6, foto pasangan ini terbingkai indah dan amat kontras dengan pakaian adat Aceh.
Darussalam, tempat bermukim mahasiswa dari berbagai daerah dan berdiri megah dua kampus negeri yang merupakan jantung kiri dan jantung kanan NAD. Disana, di SLTP 8, masyarakat Darussalam memberikan aspirasi politiknya.
Poster-poster pasangan kandidat tertempel di dinding sekolah. Sebelum masuk ke dalam ruangan pemilihan, calon pemilih berdiri sebentar menatap potret bapak-bapak masa depan Aceh, setelah yakin dengan pilihannya, baru ia masuk, duduk dan menunggu giliran pencoblosan.
Bukan tak mungkin kampanye tidak berlangsung di saat detik-detik yang menegangkan ini. Kemajuan teknologi komunikasi telah memberi layanan SMS sebagai salah satu cara berkampanye. Selain mudah, murah, juga sangat efektif.
Satu hari sebelum pemilihan, merupakan hari tenang. Di mana tak ada kegiatan apapun menyangkut kampanye dan kepentingan parpol dan pemungutan suara.
Ada hal yang membuat calon pemilih merasa ragu, goyah, kesal, dan benci. Puluhan SMS masuk. Nada-nada menyanjung, memotivasi dan memberikan janji-janji kepada masyarakat memenuhi inbox pengguna handphone.
Untuk kesejahteraan rakyat, kemaslahatan umat dan kesatuan nanggroe, pilihan jitu dambaan rakyat, HUMAM-HASBI no.4 untuk kemenangan bersama, sebarkan SMS ini ke 10 nomor berbeda.
Kira-kira begitu bunyi SMS yang dikirimkan oleh beberapa nonor berbeda. Beberapa orang pendukung H2O itu berlangsung mem forward SMS itu ke beberapa nomor, tapi banyak yang mendelete langsung tanpa membaca lebih lanjut.
Bukan hanya sehari sebelum pemilihan tersebut masuk. Tapi saat berada di bilik suara dan siap menyumbangkan suara untuk salah satu pasangan wakil rakyat. Tak jarang keraguanpun memenuhi relung hati penerima SMS tersebut.
Keluar dari bilik suara, tak jarang dari pemilih saling membicarakan jagoannya dan membahasnya sepanjang perjalanan pulang. Mereka menanti sore yang akan datang memberi harapan baru untuk Aceh, dari suara-suara mereka.
Hingga saat azan magrib menggema terdengar ke seluruh penjuru dunia Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar, memenangkan pilkada ini. Calon independen dari GAM yang sama sekali tak terduga, namun tak bisa di pandang sebelah mata.

Ketika Pakar Berkomentar
Sebelumnya memang banyak tanggapan pesimis dari berbagai elemen pemerintahan dan sipil tentang bagaimana mungkin GAM memimpin. Nyatanya setelah pilkada di langsungkan tanggal 11 Desember lalu, dunia pun berdecak kagum atas perolehan suara untuk kandidat ini. 38,20% atau sekitar 768.745 suara berhasil di genggam oleh IRNA (Irwandi-Nazar).
Berbagai komentar pun mewarnai kebahagiaan sebagian besar rakyat Aceh ini. Mulai dari tanggapan positif maupun tanggapan negatif. Semuanya mengeluarkan satu pendapat sebagai aspirasi politiknya dalam ajang ini.
IRNA sebagai gubernur terpilih mulai merancang masa depan Aceh yang berdasarkan edemokrasi. Visi dan misi yang membuat rakyat tergugah ataukah hanya sekedar balas dendam terhadap pemerintahan?
Beberapa pakar ikut berkomentar dalam kemenangan mereka. Ada yang optimis kemenangan mereka hanya berasal dari akibat kekalahan partai politik dan  pemerintah tidak berhasil memenangkan hati rakyat Aceh. Intinya rakyat aceh selalu di kecewakan oleh pemerintahan pusat, sehingga dengan memilih Irwandi-Nazar secara tidak langsung dendam mereka terbalaskan.
“kemenangan Irwandi –Nazar karena partai politik dan pemerintahan pusat tidak berhasil memenangkan hati rakyat Aceh.” Kata Effendi Gazali, pakar Komunikasi Universitas Indonesia (UI) seperti yang di kutip oleh tabloid Suwa edisi 3.
Selain Effendi yang berkomentar demikian, masih ada Otto Syamsudin Ishak yang pesimis terhadap kemenangan IRNA. Ekonomi dan budaya yang menjadi salah satu visi dan misi kandidat ini di yakini tidak dapat terealisasikan dalam pemerintahan ke depan. Hal ini berdasarkan dari latar belakang kandidat yang terlalu “menghutan”.
“secara perang dan politik aceh yang menang. Kedepan, apakah Aceh bisa menang secara ekonomi dan Budaya.” Kata sosiolog Aceh ini.
Ekonomi Aceh yang tidak stabil selama beberapa dekade ini telah melahirkan asumsi baru bagi masa depan Aceh. Pakar sosiolog Aceh meyakini Irwandi Nazar tidak dapat menepati janji-janjinya setelah menjadi gubernur nanti. Apalagi di bidang ekonomi dan budaya.
Namun ada yang pro ada juga yang kontra. Khususnya bagi kelompok Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA), mereka sangat bangga dan senang dengan majunya Irwandi-Nazar ke dalam pemerintahan Aceh. Ini salah satu wadah pesta demokrasi rakyat Aceh.
“selama ada partai politik, tak pernah memberikan kontribusi untuk rakyat Aceh. Rakyat Aceh ingin ada perubahan di Aceh, dan harapan perubahan itu ada di pundak IRNA” ujar Nasruddin Abu Bakar, presidium SIRA.
Apakah mungkin rakyat Aceh benar-benar berpesta dengan semua kemenangan yang diperoleh oleh Irwandi-Nazar?

Kandidat Lainnya
Tiap kandidat yang bertarung tidak ada yang merasa tersaingi oleh kemenangan irwandi nazar. Kemenangan menurut mereka sangat lumrah dalam persaingan, semua kandidat berhak atas kemenangan. Hanya kebijakan tiap kandidat yang membawa ketabahan buat mereka.
Kemenangan bukanlah segala-galanya buat para kandidat. Perhitungan suara masih dipimpin oleh irwandi nazar.
Padahal, jauh-jauh hari sebelum pilkada, perdana menteri Gerakan Aceh Merdeka, Malik Mahmud Al Haytar, mengatakan, pihak mereka akan menerima apapun hasil pilkada. Itu semua demi kemajuan bangsa Aceh dan tentunya suatu keberhasilan buat rakyat aceh dalam menyongsong masa depan.
Namun pihak GAM sangat berharap, dari kemenangan ini pihak pemerintah tetap menjaga perdamaian yang telah terjalin selama satu tahun. Sejak 15 Agustus 2005 lalu tepatnya. Meskipun adanya pro dan kontra antara pemerintahan Aceh dan pusat, setidaknya hal tersebut tidak merusak kepercayaan rakyat aceh.
Dari pihak GAM maupun pihak pemerintahan berharap adanya keterbukaan dan demokrasi dari kedua pihak, baik GAM maupun pemerintah. Kemenangan irwandi nazar di harapkan bisa membawa satu warna baru.***

Bemaf Tarbiyah Tekankan Pendidikan Bagi Wanita

Sabtu, 16 september 2006 BEMAF tarbiyah mengadakan talk show woman dengan tema “wanita berbicara pendidikan”. Acara ini diselenggarakan bertujuan memberi pemahaman bagi mahasiswi di IAIN tentang apa sebenarnya pendidikan. Baik pendidikan yang internal dan eksternal.
Talk show ini berusaha memberikan motivasi bagi kaum wanita untuk terus berkecimpung didumia pendidikan. Karena  banyak wanita-wanita Aceh yang telah duduk di bangku kuliah tetapi tidak mensosialisasikan ilmu yang telah didapatkannya. Acara yang di laksanakan oleh kabid keputrian BEMAF  tarbiyah berusaha aktif berperan dalam perubahan pandangan masyarakat terhadap pendidikan bagi kaum wanita tersebut.
Dalam acara ini panitia menghadirkan tiga orang pemateri yang berhasil fdlam bidangnya. Disini pemateri juga mengangkat pentingnya gender.  Pemateri yang datang seperti raihan putri, dosen fakultas tarbiyah, soraya kamaruzzaman, dari flower aceh, dan dari deputi BRR yaitu kartini. Ketiga pemateri tersebut memberikan pencerahan tentang pendidikan dan pentingnya peran gender dalam masyarakat banyak.
Kegiatan ini di targetkan dihadiri  oleh 100 orang peserta, tapi saat acara berlangsung masih banyak sekali kursi-kursi kosong. Hanya nsebagian saja dari peserta yang ikut diacara ini, yaitu sebanyak 55 orang. Dari peserya sendiri dikutip dana untuk fasilitas-fasilitas seperti snack, makalah dari pemateri, dan sertifikat. Namun dari pihak pemateri ada yang tidak memberikan makalah.
Panitia juga membuka peluang untuk umum sepertu, guru-guru di sekolah, dan juga dosen-dosen. Selain khususnya untuk  mahasiswa IAIN. Murniati selaku ketua panitia berharap ada dampak positif bagi kaum wanita dan termotivasi untuk melanjutkan pendidikan. Karena menurutnya selama ini kaum wanita cenderung melanjutkan pendidikan hanya karena tuntutan zaman saja. Dan ini bisa menjadi cerminan bagi kaum wanita akan perannya sebagai tiang dari kukuhnya sebuah kepemimpinan.
“ kami berharap semua kesalahan yang terjadi menjadi evaluasi wanita kedepan, bahwa ia adalah ujung tombak dari rumah tangga yang akan memberi pendidikan  bagi keluarga” Katanya.
Peserta yang mengikuti acara talk show ini juga berharap bahwa kedepannya acara semakin bagus dan menghadirkan pemateri yang berbobot pula. Karena acara peran gender menatap masa depan pendidikan bukanlah hal main-main untuk di bahas. Menurt salah satu peserta, perempuan itu bukan sasaran dari kekerasan tapi bisa menjadi perubah.
“ acara-acara seperti ini sangat memberi efek baguis tidak hanya kepada wanita, tapi juga untuk kaum laki-laki. Sayangnya diruangan tidak ada kaum laki-laki.” Kata……penuh semangat.
…….., seorang pendidik yang juga mengakui bahwa wanita itu juga memiliki sisi negative yang harus diakui oleh setiap individunya. Kekurangan ini lah yang kelak menjadi perbaikan ke depan.
(By : ulfa khairina).